Bendera Merah Putih 45 Meter Dibentangkan di Pesisir Gemia, Garda Terdepan Kedaulatan NKRI

Bagikan :

TERPOPULER

MTs Negeri 1 Kota Ternate Gelar...

BACA JUGA

Halteng – Semangat nasionalisme berkobar di wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Bendera Merah Putih berukuran 45 meter dibentangkan di pesisir pantai Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, Senin (17/8).

Pembentangan Sang Saka Merah Putih tersebut menjadi simbol kecintaan masyarakat kawasan perbatasan terhadap tanah air sekaligus penegasan komitmen menjaga kedaulatan NKRI.

Ukuran bendera yang mencapai 45 meter juga dipilih sebagai simbol momentum sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Ketua Forum Komunikasi Peduli Kawasan Perbatasan Negara, Taher Abd Karim, mengatakan Desa Gemia merupakan salah satu wilayah terpencil di Kecamatan Patani Utara yang berada di kawasan perbatasan dan berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik.

Menurut Taher, Gemia memiliki sejarah panjang dalam perjalanan perjuangan bangsa. Desa tersebut merupakan tempat lahir salah satu putra terbaik Maluku Utara, H. Salahudin bin Talabuddin, yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2022.

“Pembentangan Bendera Merah Putih di pesisir pantai ini merupakan bentuk kecintaan kami, masyarakat dan generasi muda di kawasan perbatasan, terhadap tanah air, negara dan bangsa,” ujar Taher.

Ia menegaskan, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi ruang untuk kembali memperkuat semangat kebangsaan, patriotisme serta kesetiaan terhadap cita-cita Proklamasi dan konsensus nasional yang telah diwariskan para pendiri bangsa.

Pernah Dikunjungi Soekarno

Gemia juga memiliki catatan sejarah penting. Taher menyebut wilayah tersebut pernah dikunjungi Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pada 1957.

Kunjungan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari konsolidasi perjuangan bangsa dalam rangka merebut kembali Irian Barat.

“Karena itu, wilayah ini bukan sekadar kawasan terpencil. Gemia memiliki sejarah perjuangan dan posisi strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam pembentangan Merah Putih di kawasan pesisir merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kebangsaan, terutama bagi generasi muda yang hidup di wilayah perbatasan negara.

“Prinsipnya, kami menawarkan diri sebagai garda terdepan untuk ikut mengawal kedaulatan negara,” tegasnya.

Simbol Kedaulatan di Beranda Terdepan

Menurut Taher, pembentangan Merah Putih di kawasan perbatasan memiliki makna lebih dari sekadar perayaan HUT Kemerdekaan.

Kegiatan tersebut menjadi simbol perekat persatuan dan kesatuan bangsa, penegasan semangat nasionalisme serta bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ia juga menyoroti keberadaan Pulau Yiew, salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang secara administratif disebut berada dalam wilayah Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah.

Taher menyebut Pulau Yiew memiliki posisi strategis karena berada di kawasan Samudra Pasifik dan berkaitan dengan batas maritim Indonesia.

“Kawasan perbatasan adalah beranda terdepan Indonesia. Karena itu, masyarakat di wilayah ini harus memiliki kesadaran bahwa menjaga keutuhan NKRI merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Pembentangan Bendera Merah Putih tersebut turut dihadiri Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang juga Ketua Harian Kosgoro 57 Kabupaten Halmahera Tengah, Kaderun Karim, Sekretaris Badan Koordinasi DOB Patani Gebe Kepulauan, Salim Kamaraja, serta perwakilan pemuda dan masyarakat.

Dari pesisir Desa Gemia, Merah Putih dibentangkan sebagai pesan tegas dari wilayah terdepan: semangat menjaga Indonesia tidak hanya tumbuh di pusat pemerintahan, tetapi juga hidup di masyarakat yang berada di perbatasan negara.

BERITA DAERAH

LIHAT SEMUA

SAAT INI

Lepas Tim PKM Tanggap Darurat Bencana ke Aceh, Ini...

Tim yang akan bertugas di wilayah terdampak bencana itu berjumlah 12 personel lintas profesi.

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

IKLAN

Bendera Merah Putih 45 Meter Dibentangkan di Pesisir Gemia, Garda Terdepan Kedaulatan NKRI

Halteng – Semangat nasionalisme berkobar di wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Bendera Merah Putih berukuran 45 meter dibentangkan di pesisir pantai Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, Senin (17/8).

Pembentangan Sang Saka Merah Putih tersebut menjadi simbol kecintaan masyarakat kawasan perbatasan terhadap tanah air sekaligus penegasan komitmen menjaga kedaulatan NKRI.

Ukuran bendera yang mencapai 45 meter juga dipilih sebagai simbol momentum sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Ketua Forum Komunikasi Peduli Kawasan Perbatasan Negara, Taher Abd Karim, mengatakan Desa Gemia merupakan salah satu wilayah terpencil di Kecamatan Patani Utara yang berada di kawasan perbatasan dan berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik.

Menurut Taher, Gemia memiliki sejarah panjang dalam perjalanan perjuangan bangsa. Desa tersebut merupakan tempat lahir salah satu putra terbaik Maluku Utara, H. Salahudin bin Talabuddin, yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2022.

“Pembentangan Bendera Merah Putih di pesisir pantai ini merupakan bentuk kecintaan kami, masyarakat dan generasi muda di kawasan perbatasan, terhadap tanah air, negara dan bangsa,” ujar Taher.

Ia menegaskan, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI harus menjadi ruang untuk kembali memperkuat semangat kebangsaan, patriotisme serta kesetiaan terhadap cita-cita Proklamasi dan konsensus nasional yang telah diwariskan para pendiri bangsa.

Pernah Dikunjungi Soekarno

Gemia juga memiliki catatan sejarah penting. Taher menyebut wilayah tersebut pernah dikunjungi Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, pada 1957.

Kunjungan tersebut, kata dia, merupakan bagian dari konsolidasi perjuangan bangsa dalam rangka merebut kembali Irian Barat.

“Karena itu, wilayah ini bukan sekadar kawasan terpencil. Gemia memiliki sejarah perjuangan dan posisi strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat dalam pembentangan Merah Putih di kawasan pesisir merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kebangsaan, terutama bagi generasi muda yang hidup di wilayah perbatasan negara.

“Prinsipnya, kami menawarkan diri sebagai garda terdepan untuk ikut mengawal kedaulatan negara,” tegasnya.

Simbol Kedaulatan di Beranda Terdepan

Menurut Taher, pembentangan Merah Putih di kawasan perbatasan memiliki makna lebih dari sekadar perayaan HUT Kemerdekaan.

Kegiatan tersebut menjadi simbol perekat persatuan dan kesatuan bangsa, penegasan semangat nasionalisme serta bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ia juga menyoroti keberadaan Pulau Yiew, salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang secara administratif disebut berada dalam wilayah Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah.

Taher menyebut Pulau Yiew memiliki posisi strategis karena berada di kawasan Samudra Pasifik dan berkaitan dengan batas maritim Indonesia.

“Kawasan perbatasan adalah beranda terdepan Indonesia. Karena itu, masyarakat di wilayah ini harus memiliki kesadaran bahwa menjaga keutuhan NKRI merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Pembentangan Bendera Merah Putih tersebut turut dihadiri Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang juga Ketua Harian Kosgoro 57 Kabupaten Halmahera Tengah, Kaderun Karim, Sekretaris Badan Koordinasi DOB Patani Gebe Kepulauan, Salim Kamaraja, serta perwakilan pemuda dan masyarakat.

Dari pesisir Desa Gemia, Merah Putih dibentangkan sebagai pesan tegas dari wilayah terdepan: semangat menjaga Indonesia tidak hanya tumbuh di pusat pemerintahan, tetapi juga hidup di masyarakat yang berada di perbatasan negara.

Bagikan :

Artikel Terkait

Baca Juga

Iklan