back to top

Dari Kampung Sunyi di Halmahera Selatan ke Panggung Bahasa Dunia

Bagikan :

TERPOPULER

BACA JUGA

Suratman Dahlan lahir di Desa Bumi Rahmat, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara— sebuah kampung yang tak banyak disebut peta, tapi menyimpan ketekunan sebagai bahasa sehari-hari. Ia tumbuh sebagai satu-satunya anak lelaki di antara enam bersaudara, dari pasangan Dahlan Hi. Jumat dan Nursina Muin.

Dari rumah sederhana di tepi timur Indonesia itulah, perjalanan panjangnya dimulai.

Pendidikan dasarnya dijalani dengan berpindah-pindah, mengikuti jejak keluarga dan keadaan. Ia mengecap bangku SDN Akesipang Kayoa, lalu SD Inpres Saketa, sebelum akhirnya menuntaskan pendidikan dasar di SD Inpres Akelamo—kini SDN 188 Halmahera Selatan—pada 2005.

Tahun-tahun berikutnya ia lalui di SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 5 Halmahera Selatan. Di ruang kelas sekolah negeri itulah, minatnya pada bahasa mulai menemukan arah.

Bahasa Inggris membawanya melangkah lebih jauh. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Khairun, Ternate.

Dari Maluku Utara, ia berangkat ke Yogyakarta, menyelesaikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa—kampus yang menautkan pendidikan dengan nilai kebangsaan. Dengan dukungan beasiswa LPDP, Suratman kini melanjutkan studi doktoral di Universitas Negeri Makassar, tetap pada jalur yang sama: pendidikan dan bahasa.

Hari-harinya kini dihabiskan sebagai dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Khairun, Ternate. Ia mengajar tata bahasa, penerjemahan, dan strategi pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing—bidang yang menuntut ketelitian sekaligus kepekaan.

Di luar kelas, ia menulis. Dua bukunya telah terbit: Simple English Grammar (for Beginners, University Students, and General Readers) (2017) dan Establishment of a New Pedagogical Paradigm through Artificial Intelligence Tools (2025). Keduanya menandai perjalanannya dari fondasi bahasa hingga pertemuan pendidikan dengan teknologi mutakhir.

Suratman juga aktif meneliti dan mempublikasikan artikel di jurnal nasional dan internasional bereputasi.

Forum-forum ilmiah lintas negara menjadi ruang dialognya. Pada Juli 2025, ia tampil sebagai pemakalah dalam The 23rd AsiaTEFL International Conference di Hong Kong. Beberapa bulan kemudian, Desember 2025, ia diundang sebagai pembicara pada International Conference on Innovation in Learning Instruction and Teacher Education (ILITE-4) di Hanoi, Vietnam.

AsiaTEFL di Hong Kong

Hong Kong — The 23rd AsiaTEFL International Conference berlangsung pada 11–13 Juli 2025 di The Education University of Hong Kong (EdUHK). Konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi pengajaran bahasa Inggris dari berbagai belahan Asia dan dunia. Tema yang diusung, Care, Innovation, and Sustainability in English Language Teaching (ELT), menegaskan kebutuhan akan pengajaran bahasa yang bukan hanya efektif, tetapi juga manusiawi dan berkelanjutan.

Dalam forum itu, Suratman Dahlan hadir membawa riset berjudul Redefining English Language Learning in Indonesia: The Impact of Artificial Intelligence on Pedagogy and Practice.

Ia membahas bagaimana kecerdasan buatan mulai mengubah cara belajar dan mengajar bahasa Inggris di Indonesia—menggeser peran guru, menantang metode lama, dan membuka kemungkinan pedagogi baru di ruang kelas.

Bagi Suratman, teknologi bukan sekadar alat. Ia adalah pertanyaan tentang masa depan pendidikan: sejauh mana manusia tetap menjadi pusat pembelajaran, di tengah mesin yang kian cerdas.

BERITA DAERAH

LIHAT SEMUA

SAAT INI

Lepas Tim PKM Tanggap Darurat Bencana ke Aceh, Ini...

Tim yang akan bertugas di wilayah terdampak bencana itu berjumlah 12 personel lintas profesi.

BERITA UTAMA

REKOMENDASI

IKLAN

Dari Kampung Sunyi di Halmahera Selatan ke Panggung Bahasa Dunia

Imalut.com

Suratman Dahlan lahir di Desa Bumi Rahmat, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara— sebuah kampung yang tak banyak disebut peta, tapi menyimpan ketekunan sebagai bahasa sehari-hari. Ia tumbuh sebagai satu-satunya anak lelaki di antara enam bersaudara, dari pasangan Dahlan Hi. Jumat dan Nursina Muin.

Dari rumah sederhana di tepi timur Indonesia itulah, perjalanan panjangnya dimulai.

Pendidikan dasarnya dijalani dengan berpindah-pindah, mengikuti jejak keluarga dan keadaan. Ia mengecap bangku SDN Akesipang Kayoa, lalu SD Inpres Saketa, sebelum akhirnya menuntaskan pendidikan dasar di SD Inpres Akelamo—kini SDN 188 Halmahera Selatan—pada 2005.

Tahun-tahun berikutnya ia lalui di SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 5 Halmahera Selatan. Di ruang kelas sekolah negeri itulah, minatnya pada bahasa mulai menemukan arah.

Bahasa Inggris membawanya melangkah lebih jauh. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Khairun, Ternate.

Dari Maluku Utara, ia berangkat ke Yogyakarta, menyelesaikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa—kampus yang menautkan pendidikan dengan nilai kebangsaan. Dengan dukungan beasiswa LPDP, Suratman kini melanjutkan studi doktoral di Universitas Negeri Makassar, tetap pada jalur yang sama: pendidikan dan bahasa.

Hari-harinya kini dihabiskan sebagai dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Khairun, Ternate. Ia mengajar tata bahasa, penerjemahan, dan strategi pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing—bidang yang menuntut ketelitian sekaligus kepekaan.

Di luar kelas, ia menulis. Dua bukunya telah terbit: Simple English Grammar (for Beginners, University Students, and General Readers) (2017) dan Establishment of a New Pedagogical Paradigm through Artificial Intelligence Tools (2025). Keduanya menandai perjalanannya dari fondasi bahasa hingga pertemuan pendidikan dengan teknologi mutakhir.

Suratman juga aktif meneliti dan mempublikasikan artikel di jurnal nasional dan internasional bereputasi.

Forum-forum ilmiah lintas negara menjadi ruang dialognya. Pada Juli 2025, ia tampil sebagai pemakalah dalam The 23rd AsiaTEFL International Conference di Hong Kong. Beberapa bulan kemudian, Desember 2025, ia diundang sebagai pembicara pada International Conference on Innovation in Learning Instruction and Teacher Education (ILITE-4) di Hanoi, Vietnam.

AsiaTEFL di Hong Kong

Hong Kong — The 23rd AsiaTEFL International Conference berlangsung pada 11–13 Juli 2025 di The Education University of Hong Kong (EdUHK). Konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi pengajaran bahasa Inggris dari berbagai belahan Asia dan dunia. Tema yang diusung, Care, Innovation, and Sustainability in English Language Teaching (ELT), menegaskan kebutuhan akan pengajaran bahasa yang bukan hanya efektif, tetapi juga manusiawi dan berkelanjutan.

Dalam forum itu, Suratman Dahlan hadir membawa riset berjudul Redefining English Language Learning in Indonesia: The Impact of Artificial Intelligence on Pedagogy and Practice.

Ia membahas bagaimana kecerdasan buatan mulai mengubah cara belajar dan mengajar bahasa Inggris di Indonesia—menggeser peran guru, menantang metode lama, dan membuka kemungkinan pedagogi baru di ruang kelas.

Bagi Suratman, teknologi bukan sekadar alat. Ia adalah pertanyaan tentang masa depan pendidikan: sejauh mana manusia tetap menjadi pusat pembelajaran, di tengah mesin yang kian cerdas.

Tim Redaksi
Editor

Bagikan :

Artikel Terkait

Baca Juga

Iklan

error: Content is protected !!