Halsel — Peserta Program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) Batch IV menjalani ujian teori dan praktik sertifikasi Surat Izin Operator (SIO) Overhead Crane, pada 11 Maret 2026.
Tahapan ini memastikan kompetensi teknis serta pemahaman keselamatan kerja peserta sesuai standar operasional industri nikel yang berisiko tinggi.
Sebanyak 40 pemuda dari berbagai desa di Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya Pulau Obi, mengikuti evaluasi tersebut setelah menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan. Pelaksanaan ujian diawasi oleh Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Halmahera Selatan guna menjamin proses sertifikasi berjalan sesuai ketentuan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Halmahera Selatan, Daud Djubedi, sebagai Pemerintah Daerah memberikan apresiasi dan dukungan atas konsistensi pelaksanaan program vokasi ini.
“Kami melihat program ini membuka akses nyata bagi pemuda daerah untuk memperoleh pengalaman langsung dan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya, Senin (23/3).
Dalam ujian praktik, peserta diuji kemampuan pengoperasian overhead crane, termasuk teknik hoisting, cross dan long travel, serta identifikasi risiko kerja. Ahmad S. Adam, peserta asal Bacan, mengaku pelatihan tersebut memperluas pemahamannya terhadap standar keselamatan dan prosedur operasional alat berat.
“Pelatihan ini membuat kami lebih siap dan percaya diri untuk bekerja secara profesional sebagai operator,” katanya.

Sebelum mengikuti program ini, Ahmad bekerja sebagai kru di area furnace atau tungku di PT Halmahera Jaya Feronikel, salah satu unit bisnis Harita Nickel.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut dapat membuka peluang pekerjaan yang lebih baik di masa depan sebagai seorang operator overhead crane di perusahaan.
Deputy Department Head of Technical Support Harita Nickel, Agung Aribowo, menegaskan bahwa pembangunan kompetensi tenaga kerja lokal menjadi elemen penting dalam mendukung hilirisasi nikel yang semakin kompleks.
“Industri hilir nikel memiliki standar teknis dan keselamatan yang tinggi. Karena itu, pengembangan kompetensi harus dilakukan secara sistematis dan terukur. Program seperti PELITA memastikan kita tidak hanya membangun fasilitas industri, tetapi juga membangun kapasitas manusianya,” ujar Agung.
Ia menambahkan bahwa hilirisasi bukan semata peningkatan nilai tambah mineral, melainkan transformasi ekosistem industri yang membutuhkan tenaga kerja terampil dan disiplin keselamatan.
Sejak dijalankan pada 2023, PELITA dirancang berbasis kebutuhan operasional agar peserta memiliki kesiapan teknis yang relevan dengan proses produksi di kawasan industri nikel.
Melalui sertifikasi SIO ini, para peserta diharapkan mampu berkontribusi sebagai tenaga kerja kompeten sekaligus memperkuat peran sumber daya manusia lokal dalam rantai nilai industri hilir.


