Ternate – Unit Pelaksana Teknis Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate, Maluku Utara, mencatat telah melaksanakan 49 operasi Search and Rescue (SAR) sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan kejadian kedaruratan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan pada 2024 pihaknya menangani 41 kejadian, sementara pada 2025 terjadi peningkatan signifikan.
Seluruh kejadian tersebut ditangani langsung oleh Basarnas bersama unsur terkait.
“Operasi SAR kami laksanakan bersama TNI, Polri, instansi terkait, serta masyarakat nelayan,” ujar Iwan saat ditemui, Sabtu (27/12).
Iwan menjelaskan, 64 persen dari total kejadian atau 31 operasi SAR merupakan kecelakaan kapal, yang menjadi jenis kedaruratan paling dominan di wilayah Maluku Utara.
“Karakteristik Maluku Utara yang terdiri dari pulau-pulau menjadikan transportasi laut sebagai jalur utama, baik untuk nelayan maupun aktivitas masyarakat lainnya,” jelasnya.
Selain itu, faktor cuaca ekstrem turut memengaruhi tingginya angka kecelakaan laut.
Menurut Iwan, kondisi gelombang laut di Maluku Utara memiliki karakteristik berbeda dibandingkan wilayah lain.
“Di Jawa, gelombang setengah meter masih relatif aman dilalui. Namun di Maluku Utara, gelombang 1,5 hingga 2,5 meter sudah banyak menimbulkan laporan kedaruratan. Ini menunjukkan karakteristik laut yang berbeda,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan setiap kali menerima peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Begitu ada indikasi peningkatan cuaca ekstrem dari BMKG, kami langsung meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan,” tegasnya.
Dari 31 kejadian kecelakaan kapal tersebut, tercatat 122 orang selamat, 7 orang meninggal dunia, dan 20 orang dinyatakan hilang. Sementara itu, untuk bencana alam tercatat 5 kejadian dengan total 125 korban selamat.
Basarnas Ternate juga melakukan upaya mitigasi melalui pelatihan kebencanaan bersama TNI, Polri, dan instansi terkait bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, khususnya di kaki Gunung Gamkonora dan Gunung Dukono di Pulau Halmahera dan Halmahera Utara.
Adapun wilayah dengan tingkat kerawanan kecelakaan kapal tertinggi berada di Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Tengah. Dari total 31 kejadian kecelakaan kapal, hampir separuh terjadi di dua wilayah tersebut.
Operasi SAR di daerah tersebut sebagian besar ditangani oleh Pos SAR Tobelo dan Unit Siaga SAR Halmahera Selatan, yang mencatat aktivitas pelayanan kedaruratan cukup tinggi sepanjang 2025.



