Yudi Latif Soroti Pendidikan Karakter, Minta Revisi Profil Pelajar Pancasila

Bagikan :

TERPOPULER

HLH Se-dunia, DLH Kota Ternate dan...

Ternate - Memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH) se-dunia Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate dan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Ternate, gelar penanaman pohon...

BACA JUGA

Pudir III AIKOM Nilai Kebijakan Panitia Wisuda Bertentangan dengan Mekanisme Internal

Ternate - Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Ilham Djufri ST.,M.Kom menyatakan sikap bakal tidak mengikuti pelaksanaan wisuda Akdemi Ilmu Komputer (AIKOM) Ternate, yang diselenggarakan...

Keluarga Besar MAN 1 Halsel Perdana Berqurban Satu Ekor Sapi

Halsel - Keluarga besar MAN 1 Halmahera Selatan melaksanakan penyembelihan Hewan Qurban Idul Adha 1445 H/2024 M pada hari Senin (17/06). Kegiatan pemotongan qurban bertempat...

Sambut Hari Bhayangkara Ke-78, Polsek Ternate Utara Gelar Baksos Religi

Ternate - Dalam rangka menyambut hari Bhayangkara Ke-78, Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, gelar bakti sosial (Baksos) bersama pengurus Mesjid di...

JAKARTA — Pakar kenegaraan Yudi Latif menekankan urgensi pendidikan karakter di era kemajuan teknologi. Ia menilai di era digitalisasi segala sesuatu yang tidak bisa didigitalisasi justru semakin penting, seperti halnya karakter.

“Ibarat kita menanam pohon yang kokoh dan menjulang tinggi, akarnya harus kuat dulu. Dan akar itu adalah karakter. Sepintar apapun orang, kalau tidak punya karakter, maka ia nonsense,” ujar Yudi.

Melansir dari laman TEMPO.CO, Pernyataan itu disampaikan Yudi saat menjadi pembicara dalam program Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 3 yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerja sama dengan Paragon Technology and Innovation, Rabu (1/12/2021).

Masalahnya, lanjut Yudi, pendidikan di Indonesia selama ini cenderung tidak menjadikan nilai sebagai basis utama pendidikan. “Seperti kata Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu seringkali hanya terjebak menjadi pengajaran, hanya mengasah pengetahuan dan skill,” ujarnya. Padahal hakikat pendidikan adalah bagaimana menjadi manusia seutuhnya.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Profil Pelajar Pancasila telah menjabarkan karakter peserta didik yang akan dibangun dalam enam ciri utama. Keenam ciri itu ialah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong-royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatif.

Yudi menilai Profil Pelajar Pancasila dari Kemendikbud itu kabur dari aspek nilai. Ia mengatakan karakter itu seharusnya diartikulasikan dalam bentuk evaluatif, bukan deskriptif. “Yang nyata di sana hanya sila ketuhanan, yang lainnya deskriptif dan tidak jelas,” ujar mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu.

Profil Pelajar Pancasila, menurut Yudi, mestinya menggabungkan karakter manusia seutuhnya menurut Pancasila dan karakter manusia sebagai pembelajar.

Yudi Latif mengusulkan revisi Profil Pelajar Pancasila menjadi lima ciri utama. Pertama, berketuhanan dengan semangat akhlak mulia. Kedua, cinta tanah air dengan semangat kosmopolitan (persaudaraan semesta).

Ia menuturkan cinta tanah air sangat penting. Yudi beralasan pendidikan menjadi salah jika pikiran hanya soal digital teknologi 4.0 tanpa memiliki kemampuan melihat potensi yang dimiliki bangsa. “Tapi tentunya harus tetap disertai dengan semangat kosmopolitan, terhubung dengan perkembangan di tingkat dunia,” ujar dia.

Ketiga, mandiri dengan semangat gotong-royong. Keempat, bernalar kritis-kreatif dengan semangat deliberatif (hikmat permusyawaratan). Kelima, berkompeten dengan semangat pelayanan dan keadilan.

Menurut Yudi, Indonesia harus mengembangkan pendidikan dengan wawasan sosial dan kebudayaan yang berakar pada nilai-nilai Pancasila.
Indikator keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari input dan outcome namun juga keberhasilan dalam meningkatkan kualitas hidup secara nyata dalam masyarakat.

Yudi Latif mengatakan pendidikan harus memberikan kapabilitas agar manusia dapat melampaui jangkauan teknologi dan data dengan memberikan wawasan kemanusiaan dan kebijaksanaan. “Peserta didik harus menguasai cara kerja baru dengan kemampuan untuk mendekap teknologi, bukan membuat diri jadi mesin,” tuturnya.

BERITA DAERAH

LIHAT SEMUA

Dinilai Langgar UU, Senator DPD RI...

Ternate - Viral Video Bupati Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut), Frans Manery, mengejar massa aksi dengan sebilah senjata tajam (Sajam), saat menggelar aksi...

Tokoh Muda Makayoa; Integritas KPUD Halsel...

Labuha - Dengan lolosnya sejumlah incumbent Penyelenggara Pemilihan Kecamatan (PPK), diwilayah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), pada seleksi ulang anggota PPK tahun 2024 untuk pemilihan...

194 CJH Siap Diberangkatkan, Empat Diantaranya...

Halsel - Sebanyak 194 Calon Jamaah Haji (CJH) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut) untuk musim 1445 H /2024 M siap diberangkatkan...

SAAT INI

HLH Se-dunia, DLH Kota Ternate dan Pertamina Gelar Penanaman...

Ternate - Memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH) se-dunia Dinas Lingkungan Hidup (DLH)...

BERITA UTAMA

Mendikbud Batalkan UKT, Rektor; Unkhair Usul...

Ternate - Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Dr. M. Ridha Ajam, tindaklanjuti pembatalan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan...

Dinilai Langgar UU, Senator DPD RI...

Ternate - Viral Video Bupati Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut), Frans Manery, mengejar massa aksi dengan sebilah senjata tajam (Sajam), saat menggelar aksi...

Sidang Kasus Dugaan Suap AGK, Tujuh...

Ternate - Pengadilan Negeri (PN) Ternate gelar sidang kedua atas kasus dugaan suap mantan gubernur Maluku Utara (Malut), Abdul Gani Kasuba (AGK), dengan agenda...

REKOMENDASI

Pudir III AIKOM Nilai Kebijakan Panitia Wisuda Bertentangan dengan Mekanisme Internal

Ternate - Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Ilham Djufri ST.,M.Kom menyatakan sikap bakal tidak mengikuti pelaksanaan wisuda Akdemi Ilmu Komputer (AIKOM) Ternate, yang diselenggarakan...

Sambut Hari Bhayangkara Ke-78, Polsek Ternate Utara Gelar Baksos Religi

Ternate - Dalam rangka menyambut hari Bhayangkara Ke-78, Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, gelar bakti sosial (Baksos) bersama pengurus Mesjid di...

Keluarga Besar MAN 1 Halsel Perdana Berqurban Satu Ekor Sapi

Halsel - Keluarga besar MAN 1 Halmahera Selatan melaksanakan penyembelihan Hewan Qurban Idul Adha 1445 H/2024 M pada hari Senin (17/06). Kegiatan pemotongan qurban bertempat...

Walikota Ingatkan ASN Kota Ternate Untuk...

Ternate - Pengaruh judi terutama judi online cukup kuat akhir-akhir ini, sehingga Presiden RI, Ir. Joko Widodo, pun telah mengingatkan kepada seluruh jajaran ASN,...

Keluarga Besar MAN 1 Halsel Perdana...

Halsel - Keluarga besar MAN 1 Halmahera Selatan melaksanakan penyembelihan Hewan Qurban Idul Adha 1445 H/2024 M pada hari Senin (17/06). Kegiatan pemotongan qurban bertempat...

Usai Proses Penilaian Akhir Tahun Pelajaran...

Halsel - Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Halmahera Selatan, laksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan setelah proses penilaian akhir tahun pelajaran 2023-2024. Plt Kepala MAN 1...

SNPMB-SNBT Tahun 2024 Diumumkan Besok

Ternate - Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2024, resmi diumumkan besok, Kamis, 13 Juni 2024. Hasil pengumuman...

IKLAN

Yudi Latif Soroti Pendidikan Karakter, Minta Revisi Profil Pelajar Pancasila

JAKARTA — Pakar kenegaraan Yudi Latif menekankan urgensi pendidikan karakter di era kemajuan teknologi. Ia menilai di era digitalisasi segala sesuatu yang tidak bisa didigitalisasi justru semakin penting, seperti halnya karakter.

“Ibarat kita menanam pohon yang kokoh dan menjulang tinggi, akarnya harus kuat dulu. Dan akar itu adalah karakter. Sepintar apapun orang, kalau tidak punya karakter, maka ia nonsense,” ujar Yudi.

Melansir dari laman TEMPO.CO, Pernyataan itu disampaikan Yudi saat menjadi pembicara dalam program Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 3 yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerja sama dengan Paragon Technology and Innovation, Rabu (1/12/2021).

Masalahnya, lanjut Yudi, pendidikan di Indonesia selama ini cenderung tidak menjadikan nilai sebagai basis utama pendidikan. “Seperti kata Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu seringkali hanya terjebak menjadi pengajaran, hanya mengasah pengetahuan dan skill,” ujarnya. Padahal hakikat pendidikan adalah bagaimana menjadi manusia seutuhnya.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Profil Pelajar Pancasila telah menjabarkan karakter peserta didik yang akan dibangun dalam enam ciri utama. Keenam ciri itu ialah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong-royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatif.

Yudi menilai Profil Pelajar Pancasila dari Kemendikbud itu kabur dari aspek nilai. Ia mengatakan karakter itu seharusnya diartikulasikan dalam bentuk evaluatif, bukan deskriptif. “Yang nyata di sana hanya sila ketuhanan, yang lainnya deskriptif dan tidak jelas,” ujar mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu.

Profil Pelajar Pancasila, menurut Yudi, mestinya menggabungkan karakter manusia seutuhnya menurut Pancasila dan karakter manusia sebagai pembelajar.

Yudi Latif mengusulkan revisi Profil Pelajar Pancasila menjadi lima ciri utama. Pertama, berketuhanan dengan semangat akhlak mulia. Kedua, cinta tanah air dengan semangat kosmopolitan (persaudaraan semesta).

Ia menuturkan cinta tanah air sangat penting. Yudi beralasan pendidikan menjadi salah jika pikiran hanya soal digital teknologi 4.0 tanpa memiliki kemampuan melihat potensi yang dimiliki bangsa. “Tapi tentunya harus tetap disertai dengan semangat kosmopolitan, terhubung dengan perkembangan di tingkat dunia,” ujar dia.

Ketiga, mandiri dengan semangat gotong-royong. Keempat, bernalar kritis-kreatif dengan semangat deliberatif (hikmat permusyawaratan). Kelima, berkompeten dengan semangat pelayanan dan keadilan.

Menurut Yudi, Indonesia harus mengembangkan pendidikan dengan wawasan sosial dan kebudayaan yang berakar pada nilai-nilai Pancasila.
Indikator keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari input dan outcome namun juga keberhasilan dalam meningkatkan kualitas hidup secara nyata dalam masyarakat.

Yudi Latif mengatakan pendidikan harus memberikan kapabilitas agar manusia dapat melampaui jangkauan teknologi dan data dengan memberikan wawasan kemanusiaan dan kebijaksanaan. “Peserta didik harus menguasai cara kerja baru dengan kemampuan untuk mendekap teknologi, bukan membuat diri jadi mesin,” tuturnya.

Bagikan :

Artikel Terkait

Baca Juga

Pudir III AIKOM Nilai Kebijakan Panitia...

Ternate - Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Ilham Djufri ST.,M.Kom menyatakan sikap bakal tidak mengikuti pelaksanaan wisuda Akdemi Ilmu Komputer (AIKOM) Ternate, yang diselenggarakan...

Sambut Hari Bhayangkara Ke-78, Polsek Ternate...

Ternate - Dalam rangka menyambut hari Bhayangkara Ke-78, Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, gelar bakti sosial (Baksos) bersama pengurus Mesjid di...

Keluarga Besar MAN 1 Halsel Perdana...

Halsel - Keluarga besar MAN 1 Halmahera Selatan melaksanakan penyembelihan Hewan Qurban Idul Adha 1445 H/2024 M pada hari Senin (17/06). Kegiatan pemotongan qurban bertempat...

Iklan

error: Content is protected !!